Kekayaan, Kesuksesan, dan Kasih Sayang
Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut".
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?"
Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar".
"Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini". Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama sama", kata pria itu hampir bersamaan.
"Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.
Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu."
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohho... menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan."
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih Sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih Sayang."
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih Sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih Sayang menjadi teman santap malam kita."
Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih Sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."
Si Kasih Sayang bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih Sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?"
Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih Sayang, maka kemana pun Kasih Sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih Sayang, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta.
Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih Sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini." (echa)
[Hikmah] Sebelum semua terlambat
Ada sebuah keluarga yang sangat harmonis, suami istri tampak sangat serasi dan cocok hingga suatu hari sang Suami memberi tantangan kepada istrinya untuk bertahan hidup tanpa dirinya, maksudnya meminta Istrinya untuk putus hubungan komunikasi selama 24jam, sang suami bilangan kepada istrinya " Istri ku sayang, bisakan kamu tidak mengadakan hubungan komunikasi denganku selama 24jam, jika kamu bisa melakukannya maka aku akan mencintaimu selamanya.."
kemudian sang istri mengiyakan dan menyanggupi tantangan dari suaminya tersebut. Sang istri kemudian hari itu juga tidak menelpon, sms bahkan dia nginep / bermalam di rumah ibunya dan dia berpikir dengan seperti itu dia bisa mendapatkan "Cinta Selamanya" dari sang suami yang sebenarnya tanpa diketahui sang suami ternyata mempunyai penyakit yang membuatnya hanya bisa bertahan hidup selama 24jam karena dia divonis terkena kanker..
Kemudian keesok harinya istrinya pun pulang kerumah dimana dia meninggalkan suaminya sendiri selama 24jam. Dia masuk ke rumah dengan diam-diam karena dia pengin memberi surprise tapi ternyata didapatinya rumah dalam keadaan sepi, senyap. Dalam keadaaan seperti itu istrinya pun langsung sontak / spontan mencari sang Suami dan didapatinya sang Suami sudah terbujur kaku dengan sepucuk surat di sampingnya yang bertuliskan :
"Kamu berhasil sayang...bisakan kamu lakukan itu kepadaku setiap hari??I LOVE U..."Air mata sang Istripun langsung menetes..melihat Suaminya sudah terbujur kaku...
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hikmah yang bisa kita ambil dari cerita diatas adalah :
"Dont ever lost contact with someone u love and care, u'll never know what's gonna happen next day or the day after that..."
Sempatkan waktu untuk mengontaknya, menelponnya or sms, bahkan hanya sekedar mengucapkan "Hai, apa kabar?" atau mengucapkan Salam "Assalamu'alaikum...gmn kbrnya?" lakukan itu dan pastikan mereka dalam keadaan baek2 saja...
"Sayangi, dan lakukan yang terbaek untuk orang2 yang kita sayang..sebelum semuanya terlambat dan hanya air mata yang bisa mengungkapkan semua yang terasa...."
Cukup sekian, semoga bermanfaat untuk diri saya pribadi dan buat antum semua yang baca..
Aerobic Hati
Persoalan hidup seharusnya menjadikan kita giat menambah ilmu dan seyogyanya kita mengerahkan potensi terbaik kita serta meningkatkan kepiawaian menata hati dalam menghadapinya. Bukan dengan resah, bukan dengan amarah, terlebih lagi menjadi salah arah, tapi semestinya senantiasa melibatkan jiwa muthmainah dan rahmah.
Lebih sering kita menggunakan logika dan metode matematis mekanis untuk menuntaskan persoalan sehingga hasilnya jadi terkesan sadis tanpa perasaan dan hitungannya untung rugi dan kembali lagi soal materi. Memang tidak dilarang memakai logika duniawi dalam menangani masalah, namun tetap harus ditanamkan dalam sanubari bahwa kelembutan dan sentuhan pembinaan adalah uswah yang diperagakan oleh manusia paling sempurna, Rasulullah SAW dalam menghadapi kondisi apapun di dunia ini. Adakah lebih baik segala sesuatu disampaikan dengan sentuhan hati, membina, membimbing dan mengayomi? Seperti layaknya seorang ibu yang mencurahkan kasih sayang terhadap anaknya, penuh kelembutan dan pengertian. Dengan penuh kelembutan seorang ibu menjadi pelindung bagi sang anak, menjadi tempat mengadu, bahkan tanpa kata hanya dengan tatapan lembutnya, jiwa ibu berkomunikasi dengan jiwa anaknya. Hasilnya, keceriaan dan tulusnya tawa sang anak.
Orang bilang ini melow, melankolis, nggak keren, malu-maluin, tapi faktanya inilah yang hilang dari kita. Budaya husnudzhan, menjunjung tinggi silaturahmin, perkuat ukhuwah, saling pengertian, dan kasih sayang untuk mengajak orang bersama membangun kebaikan. Menangis menjadi tertawaan, karena dinilai cengeng, padahal sesungguhnya saat ini kita seharusnya menangis. Karena kondisi kebersamaan kita telah digerogoti oleh virus-virus fitnah dan curiga, kekuatan daya juang kita melemah karena ia tidak lagi ditopang oleh misi hidup tertata sesuai dengan konsep ilahiah yang penuh nuansa kebersamaan dan tausiyah. Motivasi kita lembek dan kita memilih menjadi pengemis materi. Maaf, tapi ini faktanya.
Mungkin sudah saatnya kita duduk bersama, bercengkerama seperti dulu, berdiskusi tanpa beban, menasehati tanpa menekan, saling berbagi suka duka. Agar hilang semua resah sehingga pecahlah semua masalah. Mari kita semua mulai dengan mengintrospeksi diri, nilai semua celah kesalahan, kalkulasi kekhilafan, catat semua kekurangan. Lalu mohonkan ampun kehadirat-Nya, sujudkan jiwa kehadapan Sang Maha Agung, basahi bibir dengan zikir istighfar. Sekali lagi paksa diri untuk senantiasa melantunkan istighfar. Jangan sedikitpun beri kesempatan diri untuk mengulangi diri terperosok ke lubang kebinasaan yang sama.
Ternyata dengan kesulitan hati menjadi lentur, tarik ke kanan ke kiri, tekan atas dorong dari bawah. Hati yang terlatih pasti akan menjadi kuat, ia menjadi tahan guncangan, sehat wal afiat. Bahkan hati yang sudah terlatih mampu mengatasi masalah tanpa amarah.
Masalah apapun yang kita hadapi sesungguh adalah sekolah bagi jiwa dan hati kita. Katakan pada diri, bahwa setiap episode kehidupan mampu menjadikan diri kita menemukan kita yang sebenarnya. Walaupun berat tapi ampuh dan mujarab untuk menjadikan kita lebih kuat dan taat. Maka, berupayalah untuk meningkatkan kedekatan diri kita kepada-Nya, kenali kelemahan diri, upayakan sekuat hati menegakan semangat renovasi jiwa dan perbanyak menebar kebaikan dan amal soleh. So, masalah? Siapa takut.
***
MZ Omar
Dedicated to: Teman-teman seperjuangan. Sesungguhnya kesulitan ini kunci jalan keluarnya ada di kita sendiri, keberkahan sesungguh ada di dekat kita. Tugas kitalah untuk menemukannya.
From : www.eramuslim.com
Bermimpi dan Bekerja
Saya sedikit melamun saat itu, merasai lelah dan penat karena berbagai tugas tadi siang. Ini resiko, resiko orang yang mau hidup mandiri. Ya, memang prinsip 3K sedang saya jalankan. Kuliah, Kerja, Khadimah, memang yang terakhir ini sering menggangu, tak salah jika Muhammad Fauzil Adzim mengajurkan untuk menyegerakannya. Hanya saja 'Surat Izin Menikah' dari bunda cukup rumit.
Saat penat dan lelah memang ada kenikmatan tersendiri, apalagi jika tugas-tugas itu sempurna dilaksanakan. Ada benarnya pepatah Arab yang mengatakan, "Tidak ada kenikmatan kecuali setelah bersusah payah." Namun, saat keimanan menipis dan jiwa rapuh, setan selalu mengajak untuk berkeluh-kesah menyalahkan nasib dan takdir yang berlaku. Tanpa sadar, terkadang hati menghujat Sang Maha Pengasih. Merasa tidak diperhatikan, merasa keberuntungan hanya milik orang lain saja, lalu mengutuk diri sendiri atau lebih parah memvonis orang di sekeliling kita sebagai biang masalah.
Mulut saya gatal untuk terus diam. Mulailah saya berbincang dengan lelaki sederhana itu. Lelaki itu sudah bekerja selama dua puluh empat tahun sebagai tukang sapu di Misr Service, instansi pemerintah Mesir bidang kebersihan. Sudah menikah dan dikaruniai empat orang putra. Mereka berlima tinggal di Thanta. Wow, hebat! Gumam saya dalam hati. Sementara itu karena jarak propinsi Thanta dan Kairo cukup jauh, ia tinggal dengan teman-teman seperjuangannya sesama tukang sapu. Di suatu tempat jauh dari kelayakan untuk tempat tinggal. Ketika saya bertanya tentang jumlah gaji per bulannya, ia menjawab dua ratus lima puluh Pounds Mesir. Ini gaji tertinggi untuk para senior, di bawahnya berjumlah lebih kecil lagi. Begitu pengakuannya. Saya jadi berpikir panjang, apakah cukup uang sejumlah itu untuk biaya hidup berlima? Bagaimana jika ada musibah mendadak dan perlu uang banyak? Sementara saya bisa mendapat lebih dari jumlah itu per bulan. Hidup memang tidak semua dalam hitungan matematis, banyak hal yang menjadi rahasia Allah.
Lelaki ini termasuk yang memiliki watak lembut dalam penilaian saya. Sorot matanya bercahaya, tidak sedikit pun menyimpan beban berat diraut wajahnya. Lelaki ini mungkin 'lelaki surga', suami yang baik buat istrinya dan ayah teladan bagi anak-anaknya. Lelaki yang di contohkan oleh Rasulullah SAW, " ... aku adalah orang paling baik kepada keluargaku." Di wajahnya tersirat keikhlasan mendalam untuk menapaki hidup ini. Mungkin lelaki ini seperti gambaran Miranda Risang Ayu tentang seorang tukang sapu, dalam salah satu kolomnya, "Tarikan nafasnya bismillah, dan gerak tangannya adalah tasbih." Saya jadi merasa malu sendiri, jika membanding-bandingkan dengan keadaan tukang sapu ini. Ternyata masih banyak orang yang kekurangan, masih ada orang yang jauh lebih sederhana.
Dalam kehidupan dunia yang semakin prural, dan gerak globalisasi yang terus maju. Kita akan selalu dihadapkan pada satu permasalahan yaitu materi. Otak kita akan selalu berputar mencari sumber penghidupan, dan ambisi jiwa kita akan terus membumbung untuk menuntaskan mimpi dan cita-cita. Apa yang dilukakan tukang sapu itu sebenarnya adalah tawakkal. Tawakkal yang kata seorang ulama dari Saudi, Abu Bakar Al-Jazairy adalah bekerja dan bermimpi. Atau dalam bahasa saya, 'mimpi yang dikerjakan'. Bukan menunggu emas turun dari langit. Salah satu ciri-ciri orang beriman, menurut Allah SWT dalam Al-Qur'an, "Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (Q.S. 5:23).
Tukang sapu itu mungkin punya mimpi, mimpi yang sangat sederhana sekali. Sebagaimana kita juga punya mimpi. Makanya ia bekerja apa saja, tak ia hiraukan berapa nominal yang akan ia terima. Dan takdir telah membawanya menjadi tukang sapu selama dua puluh empat tahun.
Bermimpi atau berangan-angan, lalu dirangkai dengan kerja nyata adalah keniscayaan untuk sukses. Dan inilah sunnatullah di atas muka bumi ini, jika ada usaha, pasti ada hasil. Jika ada tekad dan keseriusan, akan ada kesuksesan. Tapi itu belum cukup, perlu juga dalam hati menghadirkan ketenangan. Ketenangan yang dibangun dari keyakinan yang teguh bahwa, jika Allah berkehendak atas sesuatu tentu akan terjadi. Dan jika Allah SWT berkehendak sebaliknya, tidak akan pernah terjadi. Yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang bekerja sebaik-baiknya. Rasullah SAW dan para sahabat banyak mencontohkannya, di balik kemenangan-kemenangan perang dalam Islam, selalu didahului dengan strategi yang jitu dan perencanaan yang matang. Mulai dari pemilihan komandan perang sampai siapa yang bertugas memegang bendera. Inilah sebenarnya yang diinginkan oleh agama ini, ada politisi yang berdebat di parlemen karena memperjuangkan rakyat, ada pedagang yang berdoa di tengah pasar, atau seorang petani yang berdoa di tengah sawah.
Lelaki itu segera pamit kepada saya, ketika bus nomor enam sembilan jurusan Hadayek 'Ubbah datang. Sementara saya masih tertegun di pinggir jalan yang semakin sepi.
***
Negeri Para Nabi, 19 April 2005.
M. Yayan Suryana
- Hat ruh fen?: Mau pergi kemana?
- 250 Pounds Mesir = sekitar Rp 350.000,-
Berbagi Cahaya
“Bintang turun dong ke sini, aku kan mau main sama bintang,” ujar si sulung. Dan sudah pasti bintang-bintang itu takkan pernah turun hingga menjelang waktu tidur kami. Matanya terus menatap langit meski langkahnya mulai memasuki rumah. Padahal hanya kalimat itu yang terakhir terucap sebelum ia benar-benar masuk ke rumah. Saya menyesal tak pernah sanggup memenuhi permintaan mereka untuk mengajak terbang menemui bintang-bintang itu.
Kebetulan saat pulang tadi saya membawa sekantong apel. Saya membelinya dengan satu harap bahwa saya bisa membawakan bintang kepada mereka. Sebelum tidur, saya ajak anak-anak untuk memperhatikan sebuah apel yang saya potong secara horizontal, yakni memotong bagian tengah tubuh apel dalam keadaan berbaring bukan berdiri seperti kebiasaan orang memotong apel. Apa yang kami dapatkan? Setiap apel yang kami potong dengan cara seperti itu akan menampilkan bintang di tengahnya. Dan itu membuat anak-anak saya senang mengira saya telah benar-benar membawakan bintang untuk mereka.
Anak-anak saya memang belum benar-benar mengerti hikmah yang ingin saya ajarkan. Buah apel jenis apa pun, warna apa pun, baik yang segar atau pun sudah sedikit mengeriput, bila dibelah secara horizontal mereka akan memperlihatkan bintangnya masing-masing. Demikian halnya dengan manusia, siapa pun dia, apa pun warna kulitnya, status sosialnya, agamanya, profesinya, maupun suku dan kebangsaannya, masing-masing memiliki bintang di dalam dirinya. Karenanya takkan pernah ada alasan bagi saya untuk tidak menghormati mereka, bahkan saat mereka melakukan kesalahan sekali pun.
Ada kalanya bintang mereka tengah redup sehingga tak ada yang menerangi hatinya untuk tetap berjalan lurus. Bintang di sebelahnya lah yang semestinya membagi cahayanya untuk bisa menerangi jalan sahabatnya agar tak semakin terjerembab lebih dalam. Berbagilah, karena disaat lain sering kali kita lah yang membutuhkan cahaya agar tak pekat jarak pandang kita di depan.
Siapapun Anda, semestinya terus berupaya menghidupkan bintang di dalam diri, dan salah satu cara terbaiknya adalah dengan membiarkan bintang di dalam diri orang lain tetap bercahaya. Iri, dengki, angkuh, berbuat curang serta tak berlaku jujur takkan pernah memudarkan bintang orang lain, terlebih, takkan pernah bisa membuat kebintangan Anda semakin bercahaya. Sebaliknya, perlahan bintang Anda pun semakin meredup sebelum akhirnya mati.
Setiap manusia memiliki kesempatan untuk menunjukkan kebintangannya, meski bersamaan dengan itu ia juga berkewajiban menjaga bintang sahabatnya tak memudar. Berbagi cahaya, itulah yang harus dilakukan setiap manusia. Karena sesungguhnya setiap kita tak pernah benar-benar mendapatkan cahaya itu dengan sendirinya. Seperti bintang yang juga mendapatkan cahaya, begitulah manusia. Saat tak lagi ada yang membagi, manalah ada bintang yang bercahaya? Wallahu a’lam.
Berhentilah, Sejenak Saja...
Ketika kita yakin bahwa hidup ini cuma sekali dan dunialah tempat kita menempa amal, mempersiapkan bekal yang terbaik sebelum akhirnya memasuki akhirat yang kekal, maka sepatutnya kita paham bahwa tak ada waktu yang boleh disia-siakan. Begitu banyak yang bisa dan harus kita kerjakan. Bahkan terkadang kita merasa bahwa waktu 24 jam yang diberikan masih kurang jika harus dibagi untuk mengerjakan amanah pekerjaan, kuliah, dakwah, keluarga, dan mengurusi diri sendiri.
Berlomba-lombalah dalam mengerjakan kebaikan, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kita kerjakan. Tapi terkadang ketika kita begitu sibuk mengerjakan amanah, ada hal-hal yang kita abaikan. Saudaraku, cobalah bertanya pada diri sendiri. Jujurlah pada nurani. Sudahkah hak-hak diri kita tunaikan? Apakah ibadah kita tetap terjaga? Atau justru tilawah semakin berkurang dan malam demi malam selalu terlewatkan tanpa sempat sujud meski hanya dua rakaat di sepertiga malam?
Ibarat orang yang sedang melakukan perjalanan jauh, maka sesekali perlu berhenti untuk beristirahat atau mengisi bahan bakar kendaraan. Seperti itulah layaknya kita. Ketika bergerak, harus ada waktu dimana kita mengisi kekuatan, menenangkan pikiran, baru kemudian bergerak lagi. Rasakanlah betapa kosongnya hati ketika salat kita tak lagi khusyuk (bahkan terburu-buru), tilawah kita tak pernah mencapai target, Dhuha tak sempat dilakukan, dan akhirnya malam hanya meninggalkan lelah yang amat sangat. Apakah itu yang kita rasakan saat ini?
Jika iya, maka berhentilah sejenak. Sejenak saja... tanyalah pada diri, sudah sejauh mana kita tidak lagi tawazun (seimbang) pada diri? Saudaraku, benahilah kembali hak-hak diri dan orang lain yang selama ini mengkin terabaikan. Shalatlah sambil mengingat dosa-dosa yang mungkin sering kita lakukan tanpa kita sadari. Perbanyak doa agar kita selalu diberi kekuatan dan kesabaran. Bacalah Al-quran sambil merenungkan maknanya. Kerjakan amalan sunnah yang selama ini mungkin jarang sekali tersentuh.
Beruntunglah orang yang melakukan tasbih (shalat) ketika manusia sedang tertidur.
Ia pendam keinginannya diantara tulang rusuknya (dadanya).
Dalam suasana yang diliputi ketenangan yang khusyu.
Berdzikir kepada Allah sedang air matanya mengalir.
Kelak air matanya itu di kemudian hari akan menjadi pelita.
Guna menerangi jalan yang ditempuhnya di hari perhimpunan.
Seraya bersujud kepada Allah di penghujung malam.
Kembalilah kepada Allah dengan hati yang khusyu.
Dan berdoalah kepada-Nya dengan mata yang menangis.
Niscaya Dia akan menyambutmu dengan pemaafan yang luas.
Dan Dia akan menggantikan semua keburukanmu itu.
Dengan kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepadamu tanpa habis-habisnya.
Semua pemaafan itu diberikan bagi hamba yang kembali pada-Nya.
Sebagai karunia yang berlimpah dari Pencipta alam semesta.
Bagi orang-orang yang segera bertaubat kepada-Nya
(gubahan Walid)
Berhenti sejenak bukan berarti lantas mematahkan langkah dan menghambat tujuan. Justru kita harus berhenti sejenak untuk mengisi kekuatan kita dan melihat apa saja yang telah kita lakukan. Karena kita adalah manusia, bukan batu karang yang tetap berdiri meski diterjang ombak. Karena kita adalah manusia, bukan gunung tinggi yang tetap kokoh meski diterpa angin kencang.
***
Hayati Rahmah
love4hay at yahoo dot com
Tiga Kelompok Manusia
Setelah diturunkan kitab suci, umat pilihan itu terbagi menjadi tiga. Pertama, mereka yang menganiaya diri mereka sendiri (zalim linafsih). Kedua, yang berada di tengah-tengah (muqtashid). Ketiga, mereka yang selalu mengejar kebaikan (sabiq bil khairat).
Imam Abu Qasim Zamakhsyari, ahli tafsir dan ulama besar abad pertengahan, memaknai zalim linafsih adalah orang yang membaca Alquran, mengerti, dan memahami kandungan maknanya, tetapi amaliah sehari-harinya tidak Qurani. Lalu, muqtashid adalah orang yang sedikit lebih mulia dari itu, yakni ia membaca dan mengerti Alquran, dan ia juga mengamalkan Alquran, namun di sisi lain ia masih aktif juga melakukan perbuatan yang dilarang Alquran. Adapun sabiq bil khairat adalah orang yang membaca dan mengerti Alquran, ia juga mengamalkan ajaran Alquran, dan berbarengan dengan itu ia selalu berupaya mencapai keutamaan-keutamaan (fadlilah) dari amaliah-amaliahnya tersebut. Misalnya, ia menambahnya dengan kekhusyukan, keikhlasan, kesabaran, dan seterusnya.
Adapun Syekh Hasan al-Basyri, seorang teolog Suni, memaknai tiga kategori dalam al-Fathir 32 tersebut secara fundamental dan lebih menekankan hubungannya dengan kualitas keagamaan secara umum. Menurutnya, zalim linafsih adalah seorang mukmin yang secara sadar mengabaikan kewajiban-kewajiban agamanya, muqtashid adalah orang yang sebatas menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya, sedangkan sabiq bilkhairat adalah orang yang menambahkan pula amalan-amalan yang sunah (fadlilah) selain amal-amal wajibnya.
Yang menjadi bahasan di sini bukan bagaimana memberi 'penghakiman' pada dua posisi yang pertama dan kedua, ataupun pengagungan pada posisi yang ketiga (sabiq bil khairat). Yang terpenting adalah bagaimana kita selalu merefleksi diri demi peningkatan pada tahapan yang lebih baik, untuk kemudian mempertahankan dan terus memupuk kualitasnya, sesuai tantangan hidup kita masing-masing. Itulah satu-satunya jalan untuk menjadi orang-orang yang beruntung. Yakni, sebagaimana disabdakan Nabi, ''Yang amalnya hari ini lebih baik dari kemarin, dan esoknya lebih baik dari hari ini.''
Hidup ini adalah proses, dan hati (qalb) manusia selalu berubah-ubah (munqalib). Hari ini kita cenderung pada keburukan (misalnya pada posisi zalim linafsih), belum tentu esok atau lusa kita tidak mampu berpaling pada kemuliaan (misalnya meningkat pada posisi muqtashid, atau bahkan sabiq bil khairat) dengan izin Allah. Atau sebaliknya, derajat kemuliaan yang kita sandang hari ini, tidak mustahil esok atau lusa tiba-tiba runtuh tanpa bekas karena ketidakmampuan kita menjaga dan memupuknya dengan baik, karena kelemahan kita dalam membendung desakan setan dan hawa nafsu.
Hidup Sejahtera
Al-hayah ath-thayyibah dalam firman Allah ini dapat diartikan dengan hidup yang gemah ripah, atau hidup aman, tenteram, dan sejahtera.
Ibnu Katsir dalam menjelaskan pengertian al-hayah ath-thayyibah mengutip sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ''Sungguh sangat berbahagia orang yang telah masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan hidupnya mapan berkat karunia Allah yang diberikan kepadanya.''
Al-hayah ath-thayyibah yang dijanjikan ini hanya akan diraih oleh mereka yang melakukan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan. Kata shalih berasal dari kata shalaha yang dalam kamus bahasa diartikan sebagai lawan kata fasid (rusak atau kerusakan). Dengan demikian, kata shalih berarti terhentinya kerusakan, atau yang bermanfaat dan sesuai.
Selanjutnya, amal saleh dirumuskan sebagai perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara sadar untuk mendatangkan manfaat dan atau menolak mudarat, atau amal-amal yang sesuai dengan fungsi, sifat, dan kodrat sesuatu.
Dalam Alquran, kata shalaha diulang sebanyak 180 kali dalam berbagai bentuk. Namun, secara umum digunakan dalam dua bentuk. Pertama, digunakan dalam bentuk muta'addy (transitif/membutuhkan objek). Penggunaan bentuk ini berkonotasi aktivitas. Sebagaimana firman Allah :
''Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.'' (QS Al-Hujurat: 9-10).
Kedua, digunakan dalam bentuk lazim (intransitif/tidak perlu objek). Penggunaan bentuk ini berkonotasi sifat. Sebagaimana firman Allah, ''Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.'' (QS Al-A'raf: 56).
Sesuatu dikatakan shalih apabila objeknya telah memenuhi atau sesuai dengan nilai-nilai yang telah ditentukan, atau objeknya direhabilitasi setelah sebelumnya mengandung nilai-nilai yang belum terpenuhi atau tidak sesuai dengan fungsi (sifat) dan kodratnya.
Jika kita semua melakukan amal saleh yang orientasinya perbaikan hubungan antarsesama manusia, dan pemanfaatan sumber daya alam sebagaimana mestinya, maka hidup sejahtera bukan sekadar impian, namun akan menjadi kenyataan. Wallahu a'lam bish-shawab
Antara Ridha dan Pasrah
Ridha Allah kepada hamba-Nya adalah berupa tambahan kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah ialah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.
Dari definisi ridha tersebut terkandung isyarat bahwa ridha bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya. Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa, kita dituntut untuk ridha. Dalam artian kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman, ''Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.'' (QS 13: 11).
Hal ini berarti ridha menuntut adanya usaha aktif. Berbeda dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Walaupun di dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun di sana dituntut adanya usaha untuk mencapai suatu target yang diinginkan atau mengubah kondisi yang ada sekiranya itu perkara yang pahit. Karena ridha terhadap aturan Allah seperti perintah mengeluarkan zakat, misalnya, bukan berarti hanya mengakui itu adalah aturan Allah melainkan disertai dengan usaha untuk menunaikannya.
Begitu juga ridha terhadap takdir Allah yang buruk seperti sakit adalah dengan berusaha mencari takdir Allah yang lain, yaitu berobat. Seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khathab ketika ia lari mencari tempat berteduh dari hujan deras yang turun ketika itu. Ia ditanya, ''Mengapa engkau lari dari takdir Allah, wahai Umar?'' Umar menjawab, ''Saya lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain.''
Dengan demikian, tampaklah perbedaan antara makna ridha dan pasrah, yang kebanyakan orang belum mengetahuinya. Dan itu bisa mengakibatkan salah persepsi maupun aplikasi terhadap makna ayat-ayat yang memerintahkan untuk bersikap ridha terhadap segala yang Allah tetapkan. Dengan kata lain pasrah akan melahirkan sikap fatalisme. Sedangkan ridha justru mengajak orang untuk optimistis. Wallahu a'lam.
Kepribadian yang Terpecah
Firman Allah tersebut menggambarkan kepada kita bahwa ajaran Islam yang bersumberkan wahyu-Nya adalah ibarat celupan yang memberikan warna kepribadian pada kehidupan seseorang. Seperti halnya celupan pakaian yang mengubahnya dari asalnya putih menjadi berwarna, sesuai dengan warna celupannya. Totalitas kehidupan seorang Muslim seharusnya terwarnai (ter-shibghah) oleh ajaran Islam yang memiliki karakter syumuliyah (komprehensif, mencakup semua bidang kehidupan).
Setiap Muslim harus men-shibghah-islamiyyah, cara berpikirnya, perkataannya, pergaulannya, politiknya, bahkan cara memimpinnya ketika ia mendapatkan amanah kepemimpinan. Kepribadiannya utuh dan satu, tidak terpecah dalam segmen-segmen kehidupan yang terpisah antara satu bagian dan bagian lainnya. Hal ini sejalan dengan firman Allah, ''Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.'' (Al-Baqarah: 208).
Dalam realitas kehidupan, betapa kita kaum Muslimin sering memiliki kepribadian yang terpecah (split personality) dalam mengaplikasikan dan mengimplementasikan ajaran Islam. Ketika di masjid shalat berjamaah, suasana ukhuwah Islamiyah begitu terasa. Tetapi, begitu terjun dalam dunia politik, begitu mudahnya kita tercabik-cabik dalam bingkai pragmatisme sesaat. Saling menghina, saling menggunting dalam lipatan, saling menuduh, dan saling memfitnah, dianggap sebagai hal yang lumrah dan biasa.
Ketika dalam shalat kita membaca doa iftitah, mengikrarkan janji bahwa sesungguhnya, ''Shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabbul 'Alamin.'' Namun, dalam praktik kehidupan, kadangkala kita menghalalkan segala macam cara untuk meraih jabatan, materi, dan kedudukan. Kesenangan duniawi kita jadikan sebagai tujuan akhir, dan bukannya sebagai sarana atau wasilah kehidupan. Kejujuran pada diri sendiri, kepada sesama manusia, dan kepada Allah SWT yang dibangun melalui ibadah shaum, misalnya, ternyata hilang di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia yang serbamaterialis. Buktinya, kejujuran pada saat ini bukan lagi menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi, akan tetapi hanyalah dianggap sebagai ungkapan verbalistik yang tidak perlu direalisasikan dalam kenyataan.
Pujian diberikan kepada orang yang berhasil secara lahiriyah, tanpa perlu diketahui bagaimana proses mendapatkannya. Jika hal ini terus-menerus berlangsung, maka kehinaan dan keterpurukan akan menimpa masyarakat dan umat kita. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan dalam surat Al-Baqarah: 85, ''Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab, dan ingkar pada sebagiannya lagi? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.''
Kekayaan, Kesuksesan, dan Kasih Sayang
Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut".
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?"
Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar".
"Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini". Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama sama", kata pria itu hampir bersamaan.
"Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.
Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu."
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohho... menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan."
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih Sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih Sayang."
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih Sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih Sayang menjadi teman santap malam kita."
Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih Sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."
Si Kasih Sayang bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih Sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?"
Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih Sayang, maka kemana pun Kasih Sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih Sayang, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta.
Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih Sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini." (echa)
Harta Umat dan Pemimpin
Terhadap pengelola harta anak yatim, Allah berfirman, ''Dan janganlah kamu memakan harta anak yatim lebih dari kepatutan.'' (QS An-Nisaa 4: 6). Jadi, boleh diambil sebatas kebutuhan, namun wajib dijaga jangan sampai hilang dan lenyap, baik karena kelalaian maupun korupsi; lalu dikembangkan dan dibagikan ketika mereka butuh dan dirasa mampu memakainya.
Bila tidak dirawat, apalagi dihambur-hamburkan, maka firman-Nya, ''Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, maka sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya, dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.'' (QS 4: 10).
Akibat status harta umat dan negara laksana harta anak yatim yang dititipkan, maka para pemimpin Islam berhati-hati menetapkan penghasilan, tunjangan, dan fasilitas mereka. Khalifah Umar misalnya, menolak usulan para sahabat Nabi agar gajinya selaku kepala pemerintahan dinaikkan setelah mereka tahu Umar terpaksa berutang.
Bahkan, meski usulan disampaikan putrinya, Hafshah, yang melobi atas permintaan para sahabat Nabi, Umar tetap menolak seraya mengingatkan Hafshah akan kesederhanaan Nabi yang ingin diteladaninya. Padahal, gaji Umar hanya 16 ribu dirham setahun (sekitar Rp 40 juta).
Barulah setelah kas negara bertambah pesat usai penaklukan wilayah Persia dan sebagian Romawi, serta telah meratanya kesejahteraan umat, Umar bersedia gaji dan tunjangannya dinaikkan. Dalam contoh lain, Umar menolak mencicipi kue lezat dari Uzbekistan usai tahu panganan itu bukan makanan rakyat biasa di sana.
Prinsip ini sesuai dengan sabda Nabi kepada Umar saat dia menolak diberikan bagian selaku amil zakat. Rasul bersabda, ''Ambillah dan pakailah, atau sedekahkanlah. Sebab, jika engkau tidak meminta-minta (gaji dan fasilitas), maka terimalah. Namun, jangan engkau mengikuti nafsumu jika tidak bisa disediakan (negara dan umat).'' (HR Bukhari dan Muslim).
Jadi, meski kompensasi bagi pengelola aset umat dan negara adalah wajar, besar gaji dan mewah tidaknya fasilitas mereka disesuaikan dengan keadaan umat, sang pemilik harta yang dititipkan kepada mereka. Bila mereka telah sejahtera, yang berarti sang pemimpin telah berprestasi, maka wajar prestasi dihargai.
Ironisnya, kala problem kemiskinan, kekurangan gizi, kebodohan, dan berbagai bencana alam belum terselesaikan, juga belum ada prestasi memberantas berbagai kemunkaran semacam korupsi dan rongrongan asing, banyak orang berani menghambur-hamburkan harta umat; memperbesar jatahnya dan mempermewah hidupnya. Padahal, semua itu hanyalah mendekatkan dirinya pada azab-Nya.
Allah Menjawab Doa Dengan Cara-Nya
Pada suatu hari, seorang wanita sedang mengajar keponakannya. Dia biasanya menyimak apa yang diajarkan bibinya, tetapi kali ini dia tidak bisa berkonsentrasi. Karena salah satu kelerengnya hilang. Tiba-tiba anak itu berkata: "Bi, bolehkan aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku?"
Ketika bibinya mengizinkan, anak itu berlutut di kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia bangkit dan melanjutkan pelajaran.
Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab dan dengan demikian melemahkan imannya, dengan khawatir bertanya: "Sayang apakah engkau sudah menemukan kelerengmu?"
"Tidak Bi", jawab anak itu, "Tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi."
Alangkah indahnya iman anak itu. Allah memang tidak selalu menjawab doa kita menurut kehendak kita, tetapi jika kita tulus berdoa, Dia akan mengambil keinginan kita yang bertentangan dengan kehendakNya. Masalah terbesar dari doa adalah bagaimana membiarkannya mengalir dan mengizinkan Allah menjawab dengan cara-NYA. (Gundolo Sosro)
Dua Keinginan
Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman --berhati-hati tidak menyentuh apapun-- sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.
Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan, "Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini? Apa yang kau inginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini. Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!"
Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, "Akulah kematian, berdiri dan membungkuklah kepadaku."
Dan si kaya berkuasa itu bertanya, "Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika pekerjaanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kuat seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri oleh taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku bergetar menatap sayap-sayapmu yang menjijikan dan tubuhmu yang memuakkan."
Setelah diam beberapa saat dan tersadar dari ketakutannya, ia menambahkan, "Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang dari budak, dan tinggalkanlah diriku... Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada orang-orang yang belum terkuasai. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, dan pada hasil bumi yang belum tersimpan. Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya selir, cantik bagai pagi hari, untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang kusayangi, dialah biji mataku. Ambillah dia juga, tapi tinggalkan diriku sendirian."
Sang Maut itu menggeram, engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak tahu diri. Kemudian Maut mengambil tangan orang itu, mencabut kehidupannya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk memeriksanya.
Dan maut berjalan perlahan di antara orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling kumuh yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, "Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Illahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Jangan tinggalkan daku."
"Aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tak mendengarkan. Tapi kini kau telah mendengarku, karena itu jangan kecewakan cintaku dengan pengelakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih."
Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruhnya di bawah sayap-sayapnya.
Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang --ke dunia-- dan dalam bisikan ia berkata, "Hanya mereka yang di dunia mencari Keabadianlah yang sampai ke Keabadian itu." (hard)
Cerdas Menghisab Diri
Ia pun duduk dan menangis. Para sahabat pun bertanya kepadanya, ''Wahai khalifah, apa gerangan yang terjadi pada dirimu?'' Abu Bakar menjawab, ''Aku menangis karena burung itu. Ia terbang dengan enaknya dari satu pohon ke pohon lainnya, lalu datang ke sumber air dan hinggap di pohon, kemudian mati tanpa ada hisab dan tanpa ada azab. Aduhai, sekiranya aku menjadi burung.''
Penghisaban atas semua amal perbuatan adalah hal yang pasti bagi setiap manusia. Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya menegaskan bahwa hari penghitungan (yaum al-hisab) adalah haqq. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindar dari penghisaban di akhirat kelak. Allah berfirman, ''Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka.'' (QS 88: 25-26).
Ketika hari penghisaban tiba, tidak ada lagi saat untuk beramal. Karena itu, setiap manusia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi hari penghisaban dengan memperbanyak amal di dunia. Al-Imam Ali bin Abu Thalib berkata, ''Dunia itu selalu bergerak menjauh dari kehidupan manusia sedangkan akhirat selalu bergerak mendekatinya. Masing-masing dari keduanya mempunyai budak yang setia kepadanya. Maka, jadilah kamu sekalian sebagai budak akhirat dan janganlah kamu sekalian menjadi budak dunia. Sesungguhnya di dunia inilah tempat beramal dan tidak ada penghisaban sedangkan di akhirat nanti adalah saat penghisaban dan bukan tempat beramal.''
Amal yang akan menolong manusia di saat penghisaban nanti adalah amal saleh yang dilandasi dengan niat suci untuk mendapatkan ridha Allah semata. Karena itu, setiap manusia harus pandai melakukan evaluasi terhadap amal yang diperbuatnya di dunia.
Rasulullah SAW bersabda, ''Orang yang cerdas adalah orang yang pandai menghisab dirinya di dunia dan beramal untuk kehidupan setelah mati sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang dirinya selalu mengikuti hawa nafsunya dan hanya suka berharap kepada Allah tanpa melakukan apa-apa.'' (HR Tirmidzi).
Pernyataan senada ditegaskan Umar bin Khattab RA, ''Hisablah diri kamu sekalian sebelum dihisab oleh Allah. Dan berhias dirilah (dengan amal) untuk menghadapi ujian terbesar. Sesungguhnya, penghisaban di hari kiamat itu hanya akan terasa ringan bagi orang yang terbiasa menghisab dirinya di dunia.''
Kebiasaan menghisab diri adalah bukti ketakwaan seorang Mukmin. Dengan kebiasaan itu, semoga kita termasuk golongan yang ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya, ''Adapun orang yang diberikan kitab (catatan) amalnya dari sebelah kanannya, maka ia akan dihisab dengan penghisaban yang mudah.'' (QS 84: 7-8). Wallahu a'lam.
Love
Praise be to Allah.
Islam came to close the doors that lead to evil and sin, and is keen to block all the means that may lead to corruption of hearts and minds. Love and infatuation between the sexes are among the worst of problems.
Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah (may Allah have mercy on him) said in Majmoo’ al-Fataawa (10/129):
Love is a psychological sickness, and if it grows strong it affects the body, and becomes a physical sickness, either as diseases of the brain, which are said to be diseases caused by waswaas, or diseases of the body such as weakness, emaciation and so on. End quote.
And he (may Allah have mercy on him) said in Majmoo’ al-Fataawa (10/132):
Loving a non-mahram woman leads to many negative consequences, the full extent of which is known only to the Lord of people. It is a sickness that affects the religious commitment of the sufferer, then it may also affect his mind and body. End quote.
It is sufficient to note that one of the effects of love of a member of the opposite sex is enslavement of the heart which is held captive to the loved one. So love is a door that leads to humiliation and servility. That is sufficient to put one off this sickness.
Ibn Taymiyah (may Allah have mercy on him) said in Majmoo’ al-Fataawa (10/185):
If a man is in love with a woman, even if she is permissible for him, his heart remains enslaved to her, and she can control him as she wishes, even though outwardly he appears to be her master, because he is her husband; but in fact he is her prisoner and slave, especially if she is aware of his need and love for her. In that case, she will control him like a harsh and oppressive master controls his abject slave who cannot free himself from him. Rather he is worse off than that, because enslavement of the heart is worse than enslavement of the body. End quote.
Attachment to the opposite sex will not happen to a heart that is filled with love of Allah; it only affects a heart that is empty and weak, so it is able to gain control of it, then when it becomes strong and powerful it is able to defeat the love of Allah and lead the person into shirk. Hence it is said: Love is the action of an empty heart.
If the heart is devoid of the love and remembrance of the Most Merciful, and is a stranger to speaking to Him, it will be filled with love of women, images and listening to music.
Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah (may Allah have mercy on him) said in Majmoo’ al-Fataawa (10/135):
If the heart loves Allah alone and is sincerely devoted to Him, it will not even think of loving anyone else in the first place, let alone falling in love. When a heart falls in love that is due to the lack of love for Allah alone. Hence because Yusuf loved Allah and was sincerely devoted to Him, he did not fall into the trap of love, rather Allah says (interpretation of the meaning):
“Thus it was, that We might turn away from him evil and illegal sexual intercourse. Surely, he was one of Our chosen, (guided) slaves” [Yusuf 12:24]
As for the wife of al-‘Aziz, she was a mushrik as were her people, hence she fell into this trap. End quote.
The Muslim must save himself from this fate and not fall short in guarding against it and ridding himself of it. If he falls short in that regard and follows the path of love, by continuing to steal haraam glances or listening to haraam things, and being careless in the way he speaks to the opposite sex, etc, then he is affected by love as a result, then he is sinning and will be subject to punishment for his actions.
How many people have been careless at the beginning of this problem, and thought that they were able to rid themselves of it whenever they wanted, or that they could stop at a certain limit and not go any further, until the sickness took a strong hold and no doctor or remedy could help?
Ibn al-Qayyim (may Allah have mercy on him) said in Rawdat al-Muhibbeen (147):
If the cause happens by his choice, he has no excuse for the consequences that are beyond his control, but if the reason is haraam, the drunkard had no excuse. Undoubtedly following one glance with another and allowing oneself to keep thinking about the person is like drinking intoxicants: he is to be blamed for the cause. End quote.
If a person strives to keep away from the things that lead to this serious sickness, by lowering his gaze and not looking at haraam things, not listening to haraam things, and averting the passing thoughts that the shaytaan casts into his mind, then after that something of the evils of this sickness befalls him because of a passing glance or a transaction that is basically permissible, and his heart becomes attached to a woman, there is no sin on him for that Insha Allah, because Allah says (interpretation of the meaning):
“Allah burdens not a person beyond his scope” [al-Baqarah 2:286]
Ibn Taymiyah (may Allah have mercy on him) said in Majmoo’ al-Fataawa (11/10):
If that does not result from carelessness or transgression on his part, then there is no sin on him for what befalls him. End quote.
Ibn al-Qayyim (may Allah have mercy on him) said in Rawdat al-Muhibbeen (147):
If love occurs for a reason that is not haraam, the person is not to be blamed, such as one who loved his wife or slave woman, then he separated from her but the love remained and did not leave him. He is not to be blamed for that. Similarly if there was a sudden glance then he averted his gaze, but love took hold of his heart without him meaning it to, he must, however, ward it off and resist it. End quote.
But he must treat his heart by putting a stop to the effects of this love, and by filling his heart with love of Allah and seeking His help in that. He should not feel too shy to consult intelligent and trustworthy people for advice or consult some doctors and psychologists, because he may find some remedy with them. In doing that he must be patient, seek reward, remain chaste and keep quiet, and Allah will decree reward for him Insha Allah.
Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah (may Allah have mercy on him) said in Majmoo’ al-Fataawa (10/133):
If he is tested with love but he remains chaste and is patient, then he will be rewarded for fearing Allah. It is known from shar’i evidence that if a person remains chaste and avoids haraam things in looking, word and deeds, and he keeps quiet about it and does not speak of it, so that there will be haraam talk about that, whether by complaining to another person or committing evil openly, or pursuing the beloved one in any way, and he is patient in obeying Allah and avoiding sin, despite the pain of love that he feels in his heart, just as one who is afflicted with a calamity bears the pain of it with patience, then he will be one of those who fear Allah and are patient, “Verily, he who fears Allah with obedience to Him (by abstaining from sins and evil deeds, and by performing righteous good deeds), and is patient, then surely, Allah makes not the reward of the Muhsinoon (good doers) to be lost” [Yusuf 12:90]. End quote.
See also questions no. 20949 and 33702.
And Allah knows best.
Cakap dan Adil Memimpin
Khalifah Umar bin Khattab menghadapi dua kubu. Satu pihak, diisi mayoritas serdadu. Dengan beberapa sahabat Nabi yang senior, semacam Bilal dan Abdurrahman bin Auf, para serdadu berpadu. Mereka mendesak tanah seluas beberapa negara itu dibagi seperti dulu. Namun, Umar tak setuju. Khalifah condong pada pendapat beberapa sahabat Nabi lain, seperti Ali bin Abi Thalib dan Muadz bin Jabal, yang ingin memerhatikan kaum Muslimin masa depan seraya menautkan ukhuwah mereka dengan kaum terdahulu. Suasana panas melanda semua kubu. Meski begitu, Umar tak menonjolkan wewenangnya, apalagi sampai tidak peduli pada satu kubu.
Khalifah memilih mengkaji lagi Alquran. Itulah sumber kebenaran. Itulah jalan keluar dari perdebatan. Firman-Nya dalam surat An-Nisaa ayat 59, ''Kemudian jika kami berbeda pendapat tentang segala sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.''
Keadilan diperoleh tiga hari kemudian. Nyaris tanpa sengaja, Umar melihat ada relasi dari ayat enam sampai sepuluh surat Al-Hasyir, yang belum pernah dikemukakan. Di ayat enam Allah menjelaskan definisi fa'i, yaitu harta rampasan tanpa darah tertumpahkan. Pada ayat tujuh Allah menjelaskan pembagian harta itu untuk kaum miskin, anak yatim, dan pihak lain yang kekurangan. Adapun hak kaum Muhajirin dan Anshar di ayat delapan dan sembilan. Akhirnya, ayat sepuluh membuat kaum Muslimin sesudah era Muhajirin dan Anshar juga mendapat bagian.
Jadi, Allah menjamin adanya kemakmuran bagi semua kaum Muslimin di semua masa. Umar pun berkeputusan tidak membagi tanah kepada pasukannya. Karena berbasis Alquran, semua pihak menyambutnya gembira. Kecakapan memimpin berjalan seiring dengan keadilan. Hanya dengan keadilan semua pihak yang berbeda sikap akan menerima. Keadilan bukanlah sama rata sama rasa, melainkan proporsional sesuai dengan ketentuan agama atau fakta. Misal, ada orang mendapat harta lebih banyak karena kemiskinan dan ketidakmampuannya.
Keadilan juga muncul jika pemimpin tidak disandera kepentingan pribadi dan golongan, apalagi membungkam pihak yang bertentangan dengannya. Dia boleh saja bersikap beda dengan banyak orang, namun hanya kepada Alquran dan Sunnah Nabi semua itu hendaknya dikembalikan.
Seekor Kadal
Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan eekor kadal terperangkap di antara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku. Dia merasa kasihan sekaligus penasaran.
Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun. Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.
Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!
Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan.
Kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya....AHHHH!
Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun.
Sungguh ini sebuah cinta ...cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. Apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban.
Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.
---
Berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang-orang yang kita kasihi. JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI!!!
"Cinta membuat jiwamu muda kembali dan menghilangkan semua keriput" Jadi, mulailah mencintai!!!
Perkukuhkan bahteramu.... karena samudera ini amat dalam
Perbanyaklah amalanmu.... karena perjalanan ini amat panjang
Ikhlaskan amalanmu.... karena pencatatmu sungguh teliti. (Malaikat_subuH)
Apa Yang Paling ..... di Dunia
2. Apa yang paling jauh dari kita di dunia?
3. Apa yang paling besar di dunia?
4. Apa yang paling berat di dunia?
5. Apa yang paling ringan di dunia?
6. Apa yang paling tajam di dunia?
Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya.... pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawab "orang tua, guru, kawan, dan sahabatnya".
Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI". Sebab itu sememangnya janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185).
Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawab "negara Cina, bulan, matahari dan bintang-bintang".
Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawah "gunung, bumi dan matahari".
Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU" (Al A'Raf 179). Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?"
Ada yang menjawab "besi dan gajah".
Semua jawaban adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.
Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".
Ada yang menjawab "kapas, angin, debu dan daun-daunan".
Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan shalat, gara-gara aktivitas kita meninggalkan shalat.
Dan pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang".
Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA". Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. [mujahadah.cjb.net]