Pages

Showing posts with label facebook. Show all posts
Showing posts with label facebook. Show all posts

Analisa Kepribadian Berdasarkan Foto di friendster dan facebook

Teknik Proyektif dalam Psikologi berarti teknik yang melihat penggambaran (proyeksi) keadaan jiwa seseorang berdasarkan orientasinya. Biasanya manusia mempunyai simbol-simbol dengan artian tertentu dalam kehidupannya, dan acapkali simbol-simbol itu merefleksikan kondisi atau orientasinya secara sadar maupun tidak sadar. Misalnya, bahasa tubuh seseorang, mulai dari cara berdiri, berjalan, duduk, lalu cara bicara dari intonasi, pilihan kata, dan sistematika tata bahasanya. Banyak orang yang menyangkal namun banyak juga yang mengakui. Biasanya orang menyangkal karena ada proses mekanisme pembelaan ego, dan yang mengakui bisa karena memang itulah yang ia rasakan/ sadari, atau sekedar tersugesti…hehe… Nah sekarang kita akan coba melihat salah satu model Projective Technique dengan melihat foto yang dipampang di akun friendster seseorang:



1. Memasang fotonya sendiri, artinya cukup pe de,

2. kalau fotonya bergaya berarti ada narsisme, kalau gayanya nanggung berarti menutupi ketidak-pede-annya

3. kalau fotonya dari atas (orang kelihatan di bawah) berarti merasa inferior, indikasi haus kasih sayang, ada sisi egoisme dan kurang menghargai sesama

4. kalau foto kelihatan ada jarak (mungkin biar kelihatan seluruh tubuh) berarti kurang percaya dengan orang lain sekaligus ingin punya privasi, agak tertutup

5. kalau fotonya di tengah berarti pengen dilihat apa adanya, indikasi kedewasaan, kematangan berpikir dan bersikap

6. kalau fotonya cenderung ke kiri artinya cenderung introvert, klo ke kanan cenderung ekstrovert

7. kalau fotonya sedang melakukan sesuatu (bukan hanya berdiri dan bergaya) berarti ingin dilihat berdasarkan apa yang dia bisa/ mampu lakukan

8. klo fotonya pakai pakaian khusus (seragam, kostum, mode2 ttt) berarti suka menampilkan kepemilikan tapi justru merasa tidak memiliki dirinya sendiri karena memandang dirinya ‘nothing’ tanpa memakai sesuatu

9. kalau fotonya telanjang, orientasi seksual tinggi atau narsisme

10. kalau foto binatang atau tokoh kartun binatang, berarti ingin disayangi seperti cara menyayangi binatang itu atau ingin menjadi seperti tokoh itu, artinya pula tidak menerima keadaan dirinya saat ini.

11. klo gambar kartun/ tokoh anime manusia berarti itulah self-imagenya, bayangin sendiri arti dari tokohnya, misal tokoh2 bersenjata, berarti ia membawa agresivitas, klo tokoh berilmu atau menyimpan sesuatu (conan, naruto, dll) berarti merasa tidak punya, kekurangan atau menginginkan sesuatu yang (kehebatan, kepinteran, dll)

12. Klo lukisan, abstrak, pemandangan dll, berarti ia kurang manusiawi atau merasa kurang dimanusiakan, menganggap dirinya inferior dan kurang sosial. Gambar/ simbol2 abstrak lebih diartikan sebagai over-privasi atau menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya ingin diungkap (oleh orang tertentu yang ia harapkan).

13. klo foto bersama orang lain, makin banyak makin mengindikasikan keinginan kebersamaan, atau merasa hampa/ tak berarti bila sendiri. Bisa juga berarti lebih menghargai orang lain ketimbang dirinya sendiri.

14. foto memeluk binatang atau memegang sesuatu barang, menjadikan dirinya nomor dua setelah yang ia pegang. aneh kan? Nah, barangsiapa kurang berkenan mohon maaf, tapi saya berharap semua yang membaca tulisan ini menggunakannya untuk mengintrospeksi diri masing-masing, bukan malah makin menutupinya apalagi dengan menyalahkan saya…huaks..!

Beberapa waktu lalu muncul laporan mengenai tanda-tanda orang kecanduan Facebook atau situs jejaring sosial lainnya, misalnya Anda mengubah status lebih dari dua kali sehari dan rajin mengomentari perubahan status teman. Anda juga rajin membaca profil teman lebih dari dua kali sehari meski ia tidak mengirimkan pesan atau men-tag Anda di fotonya.
Laporan terbaru dari The Daily Mail menyebutkan, kecanduan situs jejaring sosial seperti Facebook atau MySpace juga bisa membahayakan kesehatan karena memicu orang untuk mengisolasikan diri. Meningkatnya pengisolasian diri dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan respons kekebalan, level hormon, fungsi urat nadi, dan merusak performa mental. Hal ini memang bertolak belakang dengan tujuan dibentuknya situs-situs jejaring sosial, di mana pengguna diiming-imingi untuk dapat menemukan teman-teman lama atau berkomentar mengenai apa yang sedang terjadi pada rekan Anda saat ini.


Suatu hubungan mulai menjadi kering ketika para individunya tak lagi menghadiri social gathering, menghindari pertemuan dengan teman-teman atau keluarga, dan lebih memilih berlama-lama menatap komputer (atau ponsel). Ketika akhirnya berinteraksi dengan rekan-rekan, mereka menjadi gelisah karena "berpisah" dari komputernya.
Si pengguna akhirnya tertarik ke dalam dunia artifisial. Seseorang yang teman-teman utamanya adalah orang asing yang baru ditemui di Facebook atau Friendster akan menemui kesulitan dalam berkomunikasi secara face-to-face. Perilaku ini dapat meningkatkan risiko kesehatan yang serius, seperti kanker, stroke, penyakit jantung, dan dementia (kepikunan), demikian menurut Dr Aric Sigman dalam The Biologist, jurnal yang dirilis oleh The Institute of Biology.
Pertemuan secara face-to-face memiliki pengaruh pada tubuh yang tidak terlihat ketika mengirim e-mail. Level hormon seperti oxytocin yang mendorong orang untuk berpelukan atau saling berinteraksi berubah, tergantung dekat atau tidaknya para pengguna. Beberapa gen, termasuk gen yang berhubungan dengan sistem kekebalan dan respons terhadap stres, beraksi secara berbeda, tergantung pada seberapa sering interaksi sosial yang dilakukan seseorang dengan yang lain.
Menurutnya, media elektronik juga menghancurkan secara perlahan-lahan kemampuan anak-anak dan kalangan dewasa muda untuk mempelajari kemampuan sosial dan membaca bahasa tubuh. "Salah satu perubahan yang paling sering dilontarkan dalam kebiasaan sehari-hari penduduk Inggris adalah pengurangan interaksi dengan sesama mereka dalam jumlah menit per hari. Kurang dari dua dekade, jumlah orang yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapat diajak berdiskusi mengenai masalah penting menjadi berlipat."
Kerusakan fisik juga sangat mungkin terjadi. Bila menggunakan mouse atau memencet keypad ponsel selama berjam-jam setiap hari, Anda dapat mengalami cidera tekanan yang berulang-ulang. Penyakit punggung juga merupakan hal yang umum terjadi pada orang-orang yang menghabiskan banyak waktu duduk di depan meja komputer. Jika pada malam hari Anda masih sibuk mengomentari status teman Anda, Anda juga kekurangan waktu tidur. Kehilangan waktu tidur dalam waktu lama dapat menyebabkan kantuk berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, dan depresi dari sistem kekebalan. Seseorang yang menghabiskan waktunya di depan komputer juga akan jarang berolahraga sehingga kecanduan aktivitas ini dapat menimbulkan kondisi fisik yang lemah, bahkan obesitas.
Tidak heran jika Dr Sigman mengkhawatirkan arah dari masalah ini. "Situs jejaring sosial seharusnya dapat menjadi bumbu dari kehidupan sosial kita, namun yang kami temukan sangat berbeda. Kenyataannya situs-situs tersebut tidak menjadi alat yang dapat meningkatkan kualitas hidup, melainkan alat yang membuat kita salah arah," tegasnya.
Namun, bila aktivitas Facebook Anda masih sekadar sign in, mengonfirmasi friend requests, lalu sign out, tampaknya Anda tak perlu khawatir bakal terkena risiko kanker, stroke, bahkan menderita pikun.